PENGERTIAN IFRS
IFRS
(International Financial Reporting Standards and Practices) merupakan standar
akuntansi internasional yang diterbitkan oleh International Accounting Standard
Board (IASB). IASB dahulu bernama Komisi Standar Akuntansi Keuangan
(IASC/International Accounting Standrds). Organisasi ini memiliki tujuan
mengembangkan dan mendorong penggunaan standar akuntansi global yang
berkualitas tinggi, namun dapat dipahami dan dapat diperbandingkan (Choi et al,
2005).
IFRS
diterbitkan sebagai upaya untuk memperkuat arsitektur keuangan global dan
mencari solusi jangka panjang terhadap kurangnya transparansi informasi
keuangan.
Adapun
tujuan penerapan IFRS adalah:
- Memastikan bahwa laporan keuangan internal perusahaan mengandung informasi berkualitas tinggi;
- Transparansi bagi pengguna laporan dan dapat dibandingkan sepanjang periode yang disajikan;
- Dapat dihasilkan dengan biaya yang tidak melebihi manfaat untuk para pengguna; dan
- Meningkatkan investasi.
Di
Indonesia, saat ini menggunakan Prinsip-prinsip Akuntansi Berterima (yang berlaku) Umum atau istilahnya
PABU yang disusun oleh IAI (Ikatan Akuntan Indonesia) yang terbit
dalam bentuk buku bernama SAK (Standar Akuntansi Keuangan). Dahulu sebelum SAK, dikenal PAI (Prinsip-prinsip
Akuntansi Indonesia). Di dunia ada banyak sistem akuntansi yang berbeda-beda.
Saat ini sistem akuntansi di Indonesia mengacu pada standar akuntansi Amerika
atau GAAP (Generally Accepted Accounting Principles) yang disusun oleh FASB
(Financial & Accounting Standards Board), yang terbit dalam bentuk buku bernama
SFAS (Statements of Financial and Accounting Standards). Beberapa tahun yang lalu,
sebelum akuntansi kita mengacu pada akuntansi Amerika, Indonesia menerapkan sistem
pembukuan Belanda yang dikenal dengan istilah tata buku (book keeping). Dengan adanya
standar yang berbeda-beda, maka dirasa perlu munculnya akuntansi internasional yang
diharapkan mampu mengatasi perbedaan akuntansi yang ada di banyak negara.
KONVERGENSI IFRS
Ikatan
Akuntan Indonesia (IAI) sebagai organisasi yang berwenang dalam membuat standar
akuntansi di indonesia telah melakukan langkah-langkah penyeragaman standar
akuntansi keuangan. Sejak tahun 1994 IAI telah melaksanakan program harmonisasi
dan adaptasi standar akuntansi internasional dalam rangka pengembangan standard
akuntansinya (SAK [2009]). Berdasarkan data perbandingan yang dilakukan oleh
Osman Ramli Satrio dan Rekan terhadap PSAK per 1 Januari 2007 dan standar
akuntansi internasional (IFRS dan US GAAP) diperoleh data bahwa dari 57 PSAK
yang ada sebanyak 28 PSAK dikembangkan dari IFRS dan 20 PSAK dikembangkan dari
US. GAAP sementara 8 PSAK dikembangkan sendiri oleh IAI. Lebih lanjut 1 PSAK
mengenai syariah dikembangkan dari standard akuntansi yang dibuat oleh
Accounting and Auditing Organization for Islamic Financial Institutions
(AAOIFI) dan regulasi lokal yang relevan (Deloitte, 2007).
IAI
pada Desember 2008 telah mengumumkan rencana konvergensi standar akuntansi
lokalnya yaitu Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) dengan
International Financial Reporting Standards (IFRSs) yang merupakan produk dari
IASB. Rencana pengkonvergensian ini direncanakan akan terealisasi pada tahun 2012.
Standar
akuntansi di Indonesia saat ini belum menggunakan secara penuh (full adoption)
standar akuntansi internasional atau International Financial Reporting Standard
(IFRS). Standar akuntansi di Indonesia yang berlaku saat ini mengacu pada US
GAAP (United Stated Generally Accepted Accounting Standard), namun pada
beberapa pasal sudah mengadopsi IFRS yang sifatnya harmonisasi. Adopsi yang
dilakukan Indonesia saat ini sifatnya belum menyeluruh, baru sebagian
(harmonisasi).
Pengadopsian
standar akuntansi internasional ke dalam standar akuntansi domestik bertujuan
menghasilkan laporan keuangan yang memiliki tingkat kredibilitas tinggi,
persyaratan akan item-item pengungkapan akan semakin tinggi sehingga nilai
perusahaan akan semakin tinggi pula, manajemen akan memiliki tingkat
akuntabilitas tinggi dalam menjalankan perusahaan, laporan keuangan perusahaan
menghasilkan informasi yang lebih relevan dan akurat, dan laporan keuangan akan
lebih dapat diperbandingkan dan menghasilkan informasi yang valid untuk aktiva,
hutang, ekuitas, pendapatan dan beban perusahaan (Petreski, 2005).
Ikatan
Akuntan Indonesia (IAI) mencanangkan bahwa Standar akuntansi internasional
(IFRS) akan mulai berlaku di Indonesia pada tahun 2012 secara keseluruhan atau
full adoption (sumber: Ikatan Akuntan Indonesia, 2009). Pada tahun 2012
tersebut diharapkan Indonesia sudah mengadopsi keseluruhan IFRS, sedangkan
khusus untuk perbankan diharapkan tahun 2010.
Baskerville
(2010) dalam Utami, et al. (2012) mengungkapkan bahwa konvergensi dapat berarti
harmonisasi atau standardisasi, namun harmonisasi dalam konteks akuntansi
dipandang sebagai suatu proses meningkatkan kesesuaian praktik akuntansi dengan
menetapkan batas tingkat keberagaman. Jika dikaitkan dengan IFRS maka
konvergensi dapat diartikan sebagai proses menyesuaikan Standar Akuntansi
Keuangan (SAK) terhadap IFRS.
Lembaga
profesi akuntansi IAI (Ikatan Akuntan Indonesia) menetapkan bahwa Indonesia
melakukan adopsi penuh IFRS pada 1 Januari 2012. Penerapan ini bertujuan agar
daya informasi laporan keuangan dapat terus meningkat sehingga laporan keuangan
dapat semakin mudah dipahami dan dapat dengan mudah digunakan baik bagi
penyusun, auditor, maupun pembaca atau pengguna lain.
Dalam
melakukan konvergensi IFRS, terdapat dua macam strategi adopsi, yaitu big bang
strategy dan gradual strategy. Big bang strategy mengadopsi penuh IFRS
sekaligus, tanpa melalui tahapan-tahapan tertentu. Strategi ini digunakan oleh
negara -negara maju. Sedangkan pada gradual strategy, adopsi IFRS dilakukan
secara bertahap. Strategi ini digunakan oleh negara – negara berkembang seperti
Indonesia.
Terdapat
3 tahapan dalam melakukan konvergensi IFRS di Indonesia, yaitu:
1.
Tahap Adopsi (2008 – 2011), meliputi aktivitas dimana seluruh IFRS diadopsi ke
PSAK, persiapan infrastruktur yang diperlukan, dan evaluasi terhadap PSAK yang
berlaku.
2.
Tahap Persiapan Akhir (2011), dalam tahap ini dilakukan penyelesaian terhadap
persiapan infrastruktur yang diperlukan. Selanjutnya, dilakukan penerapan
secara bertahap beberapa PSAK berbasis IFRS.
3.
Tahap Implementasi (2012), berhubungan dengan aktivitas penerapan PSAK IFRS
secara bertahap. Kemudian dilakukan evaluasi terhadap dampak penerapan PSAK
secara komprehensif.
PERBEDAAN SEBELUM DAN SESUDAH PENERAPAN IFRS
Neraca dan Laporan Laba/Rugi
bukanlah merupakan dua laporan yang berdiri sendiri tanpa hubungan. Secara
sistematis, hubungan tersebut ditunjukkan pada Gambar 1 berikut (Jusuf, 2000:
40-41):
Perbandingan
PSAK dengan IFRS
IFRS
Convergence telah membawa dunia accounting ke level baru, tiga perbedaan
mendasar, yaitu:
1.
PSAK yang semula berdasarkan Historical Cost mengubah paradigmanya menjadi Fair
Value based.
Terdapat
kewajiban dalam pencatatan pembukuan mengenai penilaian kembali keakuratan
berdasarkan nilai kini atas suatu aset, liabilitas dan ekuitas. Fair Value
based mendominasi perubahan-perubahan di PSAK untuk konvergensi ke IFRS selain
hal-hal lainnya. Sebagai contoh perlunya di lakukan penilaian kembali suatu
aset, apakah terdapat penurunan nilai atas suatu aset pada suatu tanggal
pelaporan. Hal ini untuk memberikan keakuratan atas suatuatas suatu laporan
keuangan.
2. PSAK yang semula lebih
berdasarkan Rule Based (sebagaimana USGAAP) berubah menjadi Prinsiple Based.
Apa
itu Rule Based?
Rule
based adalah manakala segala sesuatu menjadi jelas diatur batasan batasannya.
Sebagai contoh adalah manakala sesuatu materiality ditentukan misalkan diatas
75% dianggap material dan ketentuan-ketentuan jelas lainnya.
Apa
itu Prinsiple Based?
IFRS
menganut prinsip prinsiple based dimana yang diatur dalam PSAK update untuk
mengadopsi IFRS adalah prinsip-prinsip yang dapat dijadikan bahan pertimbagan
Akuntan / Management perusahaan sebagai dasar acuan untuk kebijakan akuntansi
perusahaan.
3. Pemutakhiran (Update) PSAK untuk
memunculkan transparansi dimana laporan yang dikeluarkan untuk eksternal harus
cukup memiliki kedekatan fakta dengan laporan internal. Pihak perusahaan harus
mengeluarkan pengungkapan pengungkapan (disclosures) penting dan signifikan
sehingga para pihak pembaca laporan yang dikeluarkan ke eksternal benar-benar
dapat menganalisa perusahaan dengan fakta yang lebih baik.
Pengungkapan Laporan Keuangan
Terbaik Di Indonesia
Laporan
keuangan merupakan bahasa yang digunakan oleh komunitas bisnis. Bahasa bisnis
tersebut disusun berdasarkan standar akuntansi yang merupakan aturan-aturan
pengukuran untuk laporan keuangan. Dalam perkembangannya, terdapat banyak dan
berbedanya standar akuntansi yang berlaku sehingga menimbulkan masalah
keterbandingan laporan keuangan. Kondisi ini tentu dapat dipahami karena dalam
proses penyusunan standar akuntansi di suatu negara tidak terlepas dari
pengaruh faktor-faktor lokal suatu negara (Wolk et al., 2001: 4)
Francis
et al. (2004) menyebutkan bahwa kualitas pelaporan keuangan dapat dipandang
melalui dua kelompok besar artribut kualitas pelaporan keuangan (second order),
yaitu atributatribut berbasis akuntansi (accounting based attributtes) dan
atribut-atribut berbasis pasar (market based attributes). Atribut kualitas
pelaporan keuangan berbasis akuntansi adalah kualitas akrual, persistensi,
prediktabilitas dan perataan laba, sedangkan atribut kualitas pelaporan
berbasis pasar adalah relevansi nilai, ketapatwaktuan dan konservatisme.
Variabel kualitas pelaporan keuangan berbasis akuntansi diukur hanya dengan
menggunakan informasi akuntansi,sedangkan variabel kualitas pelaporan keuangan
berbasis pasar didasarkan pada hubungan antara data pasar dan akuntansi,
seperti yang telah diungkapkan oleh Fanani (2009).
Bagi
sebuah perusahaan, menjaga dan meningkatkan kinerja keuangan adalah suatu
keharusan agar saham tersebut tetap eksis dan tetap diminati oleh investor.
Kinerja keuangan perusahaan merupakan salah satu faktor yang dilihat oleh calon
investor untuk menentukan investi saham. mempunyai fungsi sebagai sarana
informasi, alat pertanggungjawaban manajemen kepada pemilik perusahaan,
penggambaran terhadap indikator keberhasilan perusahaan dan sebgai bahan
pertimbangan dalam pengambilan keputusan (Harahap, 2004).
Referensi:
Claudya, Ursula (2014), Analisis Perbandingan Kualitas
Akuntansi Sebelum dan Sesudah Konvergengsi IFRS.
Pradhana, Raka Putra (2015). Analisis Perbandingan Prospek dan Risiko BUMN yang Terdaftar di
Bursa Efek Indonesia Sebelum dan Sesudah Penerapan SAK IFRS.
Wiyani,
dan Natalia Titiek. Standarisasi, Harmonisasi dan Konvergensi IFRS (International Financial Reporting Standart and
practices).
PENULISAN
INI UNTUK MEMENUHI TUGAS SOFTSKILL MATA KULIAH AKUNTANSI INTERNASIONAL
Ditulis
Oleh :
C. Desiana Sari
Dosen : Jessica Barus
UNIVERSITAS GUNADARMA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar